Selasa, 24 Januari 2012

“WAJAH TIDAK GEMBIRA” BARACK OBAMA: SEBUAH TANTANGAN TELEVISI

Oleh CHRISTANTO P RAHARDJO

    Televisionis macam Graeme Burton (Talking Television: An Introduction to Study Talk Television, 2000) senantiasa mengingatkan, bahwa pengaruh analisis semiotik terhadap citra (images) atau pengaruh pendekatan kulturalis terhadap kesenangan menonton (viewing pleasure) sebagai contoh kritik yang bisa diterapkan pada media (televisi) keseluruhan.
    Kasus visualisasi televisi di Amerika Serikat mengenai konfirmasi Barack Obama yang akan menerima Hadiah Nobel Perdamaian, dengan “wajah tidak gembira”, telah menjadi “titik nyala api atas jatuhnya penilaian standard pada Komite Nobel”.
    Sebagai anak emas dalam budaya pop atau selera masyarakat banyak (slobcom), maka televisi komersialis telah membuat satire sosial yang menggigit. Artinya “wajah tidak ceria” dari Obama merupakan visual untuk konsumsi kelas publik yang berpengetahuan (knowledge class); kelas yang ingin mengambil kekuasaan atas media informasi dan teknologi-teknologi budaya seperti televisi. Mereka ternyata bukan hanya menjalankan bisnis budaya atas nama pemilik dan pengambil kebijakan, melainkan juga mengatur dan mengontrol keaksaraan (literacies).
Efek dari kasus Obama tersebut (barangkali) merupakan pokok bahasan untuk direpresentasi dan diteliti dalam ilmu-ilmu sosial-politik kontemporer. Namun, kiranya cukup dengan mengatakan bahwa memvisualkan  wajah Obama, terutama di televisi ---dan lazimnya diikuti oleh media cetak lainnya--- dalam ukuran yang besar (amplified), merupakan pertanyaan yang etis dan proporsi yang tinggi, yang terus ditujukan kepada media (televisi). Dengan ungkapan agak kasar memaknai gambar Obama secara media tersebut berarti “Nobel terlalu dini bagi pemerintahan Obama yang baru seumur jagung”. Tapi benarkan demikian?
    Secara intitusional Ketua Komite Nobel Thorbjorn Jagland telah menepis anggapan itu. Dikatakannya bahwa Obama mendapatkan penghargaan atas apa yang dilakukannya. Selanjutnya Komite Nobel menjelaskan bahwa Obama berhasil menjembatani friksi antara dunia Muslim dan Barat serta mencabut rencana era mantan Presiden George W Bush untuk menempatkan sistem pertahanan rudal di Eropa.

Opera Sabun   
Masalahnya, pasti media (televisi) akan terus mendiametralkan antara Komite Nobel dengan Obama selama mungkin, sepanjang itu menguntungkan secara komodifikasi. Dalam “teori” televisi mazhab Amerika (mengacu Val E Limburg, 2008) maka yang terjadi “viewing pleasure” terletak pada kultur penciptaan perubahan menonton komedi situasi (sit com) menjadi (seolah-olah) menonton “opera sabun” (soap opera) yang tidak pernah ada akhirnya. Dan tampaknya bisa dipastikan, “wajah masam” Obama pun akan terjerumus ke dalam jurang opera sabun. Bagaimana pun juga televisi (dan mereka yang mengoperasikan sistem televisi) adalah bagian dari masyarakat dan budaya, bukan satuan yang terpisah yang menimpa masyarakat dari “luar”. Televisi memang akan terus menggubris dunia pemirsa yang bersifat “pengasingan” (schizophrenic world) secara tanpa ampun dan pekat. Penontonnya dibuat serempak sama-sama menjauhkan diri, tetapi sekaligus juga bermesraan; menertawai dan ditertawai oleh televisi.
    Dampak wajah ketidakceriaan Obama (mungkin) hanya menimbulkan pemahaman yang bersifat temaram atau remang-remang kepada publik penonton. Indera kognitif kita seolah-olah diam, namun indera afektif kita terus mencari jawaban yang tidak terjawab melalui “absurditas” televisi tersebut. Dan sekali lagi “kekurangajaran” televisi dengan gaya kontemporer dan ekonomis telah menyampaikan kredo “biarkan pasar memutuskan!” Media beserta “oknum-oknum” news-producer-nya terus maju dan “mendramatisir” visual “kecemberutan” Obama dengan cara-cara yang hanya merefleksikan satu sudut pandang, yakni sudut pandang schizophrenic world. Bukankah impian media (television dream) adalah meningkatkan rating ketertontonannya demi pasar?  Pertanyaan-pertanyaan virtualistis semacam ini pun terus merebak ketika televisi kita menggeber infotainment dan reality show. Buktikan saja di antaranya dalam Masihkah Kamu Mencintaiku (RCTI) dan Take Me/Him Out Indonesia (Indosiar). Dunia “tersembunyi” yang dulu dianggap “saru” jika dipublikkan, sekarang menjadi komoditas unggulan televisi. Wajah “tidak gembira Obama” adalah zona saru dan “sakral” dari seorang presiden Amerika Serikat, yang kemudian menggegerkan Komite Nobel.
Apakah televisi seperti di atas mencerminkan nilai-nilai sosial dan budaya? Atau apakah para produsernya memprojeksikan aturan-nilai yang dianggap “televisionis”, dengan harapan memperoleh semacam kesepakatan sosial? Mengacu pada pengalaman para peneliti media (televisi) seperti Stanley Rothman, Robert & Linda Lichter (The Media Elite) seperti diajukan kembali oleh Limburg (2008) menganggap komunitas kreatiflah yang justru mengembangkan nilai-nilai “pengasingan” (schizophrenic world) tersebut. Jadi, tema, alur berita, alur cerita dan literacies yang ditonton jutaan orang setiap hari di televisi tidak mencerminkan sama sekali nilai-nilai sebenarnya dari masyarakat Amerika.
Di Indonesia program acara Take Me/Him Out mendapat sambutan (resepsi) penontonnya rata-rata 30 persen. Namun hal ini bukan dianggap sebagai representasi perilaku sosial-budaya, karena “ketigapuluhpersenan” jumlah pemirsa tersebut hanya bervaliditas pada nafsu keingintahuan pemirsa terhadap urusan privasi orang lain. Kita dapat menganalogikan penonton Take Me/Him Out dengan menonton sepakbola di televisi yang juga punya validitas tinggi. Bukankah sepakbola merupakan sebuah aktivitas populer?
Nah, jika kasus wajah “tidak bergembira” Obama (tanpa harus berpretensi menjelaskan sebab-musababnya)terus-menerus ditayangkan, maka televisi dianggap sukses mengembangkan misi budaya pop. Terserah hal ini dianggap murahan, dianggap remeh-temeh. Yang jelas televisi (dengan ungkapan metaforanya), telah memperoleh materi dari budaya pop yang mengalir dari satu teks ke teks lainnya dan dari realitas media menuju realitas sosial. Meminjam ungkapan televisionis Fiske (1989); bahwa budaya pop hanya mampu dianalisis secara intertekstual, karena ia hanya ada dalam sirkulasi intertekstual. Terlepas juga hal ini mengandung “bahaya” dalam publisitas masyarakat. Karena televisi senantiasa mengajak dan menggiring publik penonton setiap hari, untuk menikmati audio-visual yang dangkal (superfisial).
    Hubungan antara pemirsa dan televisi sedemikian kompleks dan multidimensional, di mana kompleksitas itu menentang segala upaya untuk mereduksinya sebatas fenomena yang bisa dijelaskan dengan prosedur yang sama dengan yang dipakai oleh ahli kimia.(Januari, 2012)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar