TV MELIHAT BENCANA: KELEMAHAN STRATEGI FRAMING?
Oleh Christanto P Rahardjo
Menurut pengamat media Chris Barker, televisi tidak hanya berupa situs framing dari berjubel-jubelnya stereotip melalui stabilisasi ideologi dominan, tetapi juga ranah bersaing untuk sarana diseminasi dari makna politik dan budaya yang berbeda, di balik kinerja pemrograman yang tampaknya netral dan objektif atas nama bendera realisme.
Tayangan televisi mencakup penerimaan stimulus, pengorganisasian, dan “penerjemahan” atau penafsiran stimulus yang diorganisasikan dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan pembentukan sikap. Menonton virtual televisi merupakan proses pemberian arti terhadap lhngkungan oleh individu. Oleh karena itu, setiap individu akan memberikan arti kepada stimulus dengan cara yang berbeda meskipun objeknya sama. Prosesi individu melihat situasi seringkali lebih penting dari pada situasi itu sendiri.
Beragam situasi chaos informasi di media komunikasi dan informasi terutama media elektronik seperti televisi semakin menambah ruwet isu-isu yang berkembang di tengah masyarakat yang sedang terkena musibah bencana alam. Akhirnya bencana informasi menjadi bencana kedua yang selalu muncul ketika sebuah bencana alam besar terjadi.
Hampir semua stasiun televisi saat ini kelihatan saling memburu berita terbaru yang kesannya tergesa-gesa, dan asal pilih narasumber, akibatnya terjadilah benturan antara berita-berita yang sudah terlanjur disebar-virtualkan kepada publik. Tujuannya bukan demi informasi yang utuh-komprehensif bagi masyarakat tapi demi mengejar rating berita atau persaingan bisnis antar stasiun televisi. Fakta media itu mengingatkan kita bagaimana sebuah “rezim”, “kartel” terus mengendalikan distribusi media massa agar tidak bersifat kontraproduktif terhadap hegemoni kekuasaannya. Lagi-lagi keterjebakan media di tengah-tengah medan kepentingan antara industri atau semata rating yang berdaulat harus menelantarkan kualitas-kualitas jurnalistik yang ada. Dalam ungkapan Ellen Seiter (Semiotics, Structuralism, and Television, 2005) televisi memberitahu kita hal yang kita sudah tahu dalam bahasa yang kita tidak akan pernah mengerti. Dan petakanya bahwa bahasa informasi tersebut (seperti ditegaskan Charles S. Peirce, ibid 2005) dilihat sebagai proses produksi komunikasi mata rantai tanpa akhir, yang ia sebut "semiosis yang tak terbatas." Di sinilah “kekacauan” informasi semakin merekah.
Psikologis Minus
Mengingat temuan-temuan studi resepsi yang menekankan proses negosiasi aktif antara pemirsa dan konten televisi, penonton tidak harus ditangani sebagai 'bius budaya'. Akhirny`, Barker berpendapat untuk menekankan perlunya budaya politik identitas. Dalam mengkonstruksikan realitas, media memanfaatkan tiga komponen: (1) pemakaian simbol simbol politik (language of politic), (2) strategi pengemasan pesan (framing strategies) dan (3) kesediaan media memberi tempat (agenda setting function) Ketiganya itulah yang menentukan opini terbentuk.
Kemudian muncullah “jurnalisme” (semacam program Silet RCTI) yang sangat dini dilakukan. Stereotipik (baca: kecengengan) dan prejudis yang kemudian menjadi dasar wacana dari konten berita media televisi tersebut. Muncullah tayangan televisi “psikologis minus” dalam suasana masyarakat di Yogyakarta. Suasana pagi hari tiba-tiba berubah cukup “tak berarah” di mana tergambar di setiap sosok wajah masyarakatnya yang pada umumnya sedang berkegiatan. Rona wajah murung, bingung, dan marah tergambar di wajah mereka yang sempat mendengar ataupun melihat tayangan “berita infotainment” (Silet) di televisi tersebut. Dalam waktu relatif singkat kekuasaan atas kondisi traumatis masyarakat kota Yogyakarta serasa diambil alih oleh stasiun-stasiun televisi. Bahwa efek dominan “kultivasi kekerasan televisi” pada individu adalah pada kognitif (meyakini tentang realitas sosial) dan afektif. Program tayangan televisi tentang ramalan paranormal Permadi yang “menakutkan”, yang prejudis dan disertai visual serta latar musik “horror” ini kemudian menimbulkan adanya kecemasan pada individu-individu.
Menonton televisi bukan jenis pengalaman sama seperti membaca buku atau bahkan menonton film dalam teater. Oleh karena itu, strategi framing harus mempertimbangkan apa yang kita bisa belajar tentang proses umum menonton televisi dari hasil apa yang bisa disebut etnografi penonton penelitian-observasi langsung terhadap perilaku menonton televisi. “Silet” dan sejumlah produksi sejenisnya tampaknya begitu lemah dan “kewalahan” mengantisipasi strategi framing tersebut.
Deformasi
Sekali lagi semuanya ini karena chaos informasi dan persaingan terbuka antar program berita di stasiun-stasiun televisi ataupun radio. Sadar ataupun tidak, kondisi ini sangatlah tidak sehat bagi perkembangan masyarakat. Pengalaman dari peristiwa erupsi gunung Merapi saat ini, menunjukkan tentang peran media (terutama televisi) yang memanfaatkan objek bencana menjadi barang komersial. Dan terbukti telah mendeformasi kondusivitas dan kestabilan masyarakat di tengah kepanikan. Terbukti di lapangan; peran dan kerja para pencari berita berebutan dan mengeroyok mewawancarai salah satu korban selamat yang masih terlihat trauma karena musibah “wedhus gembel” itu. Masyarakat pun menjadi semakin terbiasakan untuk melihat gaya media mencari berita yang semakin tidak perduli dengan kondisi psikologis orang yang diwawancarai.
Peran media massa (televisi) diakui memang bersifat critical. Namun, apa yang disajikan media perlu ditanggapi secara hati-hati, media massa (televisi) perlu dijadikan perspektif, bukan kebenaran mutlak. Dalam istilah C. Wright Mills, media massa telah memberi rumus hidup yang didasari pseudo world (dunia semu), yang tidak serasi dengan perkembangan manusia. Atau seperti dikatakan Van Den Haag, karena sifatnya yang distorsif, media televisi bukan saja menyajikan realitas kedua, tetapi sekaligus juga“menipu” manusia; memberi citra dunia yang keliru.
Mengacu pada premis McNelly’s Four Position, bagaimana pun juga, “sekacau-kacaunya” media (televisi) mengabarkan kasus aneh-aneh toh tetap berdampak sosiologis dan psikologis. Model efek terbatas (limited effect model) dari benang merah analisis pakar media John T. McNelly bahwa yang dianggap paling minimal dan pesimis dalam melihat efek media massa tetap memberikan efek. Efek itu misalnya, menimbulkan peniruan langsung atau copy-cut, menyebabkan ketumpulan terhadap norma (desensitisation), dan ketiga: terbebas dari tekanan psikis (catharsis) bagi khalayak media massa. Model limited effect model jelas makin menemukan momentumnya jika dikaitkan dengan kenyataan dan kondisi sosial dan budaya masyarakat Indonesia yang masih terbatas pendidikannya dan masih kuat budaya paternalistiknya. Kenyataan ini diperkuat dengan adanya realitas sosial politik di Indonesia, bahwa peran lembaga otoritatif (trias politica), seperti eksekutif, legislatif, dan yudikatif belum melakukan perannya secara sungguh-sungguh, sehingga media massa (televisi) sebagai the fourth estate akan menghegemoni tanpa batas. Dalam dunia postmodern, seperti diungkapkan oleh Mike Featherstone (1991dan 1995), adalah kekaburan batas-batas antara seni, informasi, kebudayaan, dan iklan atau dunia bisnis yang berujung pada estetikasi umum kehidupan sehari-hari. Keironisan adalah ketika acara Silet-RCTI menampilkan isu sensitif soal remeh-temeh penghakiman moral dengan menggunakan kedok nilai keagamaan, tradisi-mitos dan norma sosial. Kemelorotan moral manusia menjadi sajian utama ataupun bumbu-bumbu yang menarik dalam acara infotainment (baca: Silet).
Meski diakui bahwa bahwa penggunaan media televisi sebenarnya terkait dengan kebiasaan, ritual, dan tidak benar-benar diseleksi. Teori ini mengesampingkan kemungkinan bahwa media televisi bisa jadi memiliki pengaruh yang tidak disadari pada kehidupan pemirsanya dan mendikte bagaimana seharusnya dunia dilihat dari kacamata para perancang kandungan isi dalam media. Apalagi seperti diungkapkan Robinson dan Steven Martin dalam Journal Social Indicators Research nonton televisi bukanlah aktivitas yang sulit atau perlu keahlian, sehingga orang dengan kemampuan sosial rendah bisa melakukannya, namun penonton menempati posisi penting dalam pembacaan suatu fenomena kebudayaan (ritual nonton televisi). Sayangnya mereka sering luput dari perhatian pengelola stasiun televisi atau abai terhadap strategi pengemasan (framing), termasuk oleh para peneliti kebudayaan sekalipun.
Penonton televisi tidak pernah menjadi pihak yang pasif dalam menyimak sebuah berita bencana. Hal ini disebabkan karena makna visual yang dikeluarkan oleh info televisi tidak pernah langsung diresepsi begitu saja oleh penonton. Justru, penonton melakukan kontekstualisasi makna-makna tersebut dengan kondisi nyata yang dialaminya, penonton juga melakukan modifikasi sendiri sehingga makna tersebut sesuai dengan keinginannya. Maka, penonton adalah pihak yang aktif, dan proses konsumsi fenomena kebudayaan pun menjadi sesuatu yang kreatif.
Di balik “kegalauan” dan absurditas program-program televisi (sejenis Silet). Seyogyanya kita tetap berpedoman “selamatkan diri kita dari diri kita sendiri”. Pasti kalimat tadi terdengar agak pesimis, tetapi memang sudah saatnya kita melunasi apa yang kita perkosa dari alam. Masalah dan bencana alam yang timbul adalah masalah kita semua dan penyelesaiannya hanya bisa dengan kepedulian bersama. Akhirnya di tengah-tengah kebencanaan ini, kita diingatkan kembali ucapan Lawrence E. Joseph; bahwa mereka yang paling memahami realitas adalah mereka yang akan mengalami kehilangan paling sedikit dalam kekacauan dan bencana yang setiap saat akan datang”.
**Christanto P Rahardjo, Praktisi Media & Mahasiswa S-3 Kajian Budaya dan Media UGM Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar