Melihat Kompetisi Sepak Bola Indonesia
Saya kemarin sore, 22/01/12 menonton acara "live" kompetisi sepakbola ISL (Indonesia Super League), antara AREMA duel dengan PSMS melalui stasiun televisi ANTV. Pertandingan berlangsung dengan nafsu amarah, nafsu kekerasan yang absurd. Sepakbola negeri ini memang "miskin senyuman", miskin untuk mengakui keunggulan lawan. Sepakbola Indonesia seolah-olah "autopilot". Dengar-dengar kompetisi sepakbola kita masuk nomor tiga (3) teratas di dunia untuk urusan kebrutalan dan "kengawuran". Wasit di sini acapkali dipisuhi dengan kata-kata kotor oleh pemain, pelatih, manajer bahkan komentator tv. Keyakinan yang dianut klub sepakbola gaya PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) adalah kemenangan tanpa rasa malu dan kekalahan yang amat sakit? Apakah kondisi mengerikan persepakbolaan kita ini merupakan potret kecil keadaan Indonesia secara nyata, yang dijejali praktik korupsi, praktik pelanggaran HAM, sikap brutal terhadap perbedaan keyakinan? Melihat tontonan sepakbola Indonesia, adalah melihat sinisme yang pucat, ia tak memberi apa-apa kecuali kuasa kegelapan dan kekerasan tanpa dasar. (CPR).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar