Selasa, 31 Januari 2012

KONGRES BAHASA JAWA & KINERJA REKOMENDASI
Oleh Christanto P Rahardjo

Mempertalikan Kongres Bahasa Jawa (KBJ) ke-5 (di Surabaya, 27-30/11/11) dan bahasa Jawa (BJ) sendiri nampaknya dapat menjadi satu diskusi yang menarik. Bukan saja karena persoalan filosofis mendasar yang acapkali menjadi perdebatan, melainkan juga karena tidak ada “rekomendasi” yang jelas untuk sekedar mengembangkan dan melestarikan BJ. Kalau toh ada sejumlah produk rekomendasi karena memang itulah formalitas tuntutan KBJ. Namun bisa jadi formalitas tersebut terpaku dalam abstraksi yang membisu di pasca KBJ. Ini terbukti bahwa sebagian besar keputusan/rekomendasi KBJ IV di Semarang (2006) belum dapat direalisasikan. Contohnya kinerja muatan lokal wajib BJ di sekolah lanjutan di Jawa Timur, Jawa Tengah dan DIY, juga eksistensi BJ di sejumlah institusi formal, informal dan non-formal. Semuanya masih terlihat sepi. Padahal penyelenggaraan pendidikan BJ terutama yang dilaksanakan di luar sekolah (non-formal) dan informal saat ini semakin memprihatinkan. Nasib BJ kian tertatih-tatih terutama dalam konteks sebagai pemberdayaan masyarakat (community empowerment).
Dalam kaitannya dengan dunia komunikasi, bukankah KBJ adalah representasi proses komunikasi BJ dan pemahaman yang aktif dan terus-menerus. Dalam konteks ini, ketika KBJ dipandang sebagai produk komunikasi, maka menjadi penting untuk melihat bagaimana kemediaan KBJ menyelamatkan BJ melalui praktik kinerjanya. Rekomendasi/keputusan KBJ, sebagai keluaran akhir dari praktik komunikasi dipahami sebagai produksi bernuansa politis. Sebagai kesatuan organik, semestinya KBJ tahun ini mampu merepresentasikan pikiran dan gagasan-gagasannya melalui rekomendasi/keputusan yang dihadirkan ke ruang publik. Sayangnya sejak KBJ pertama hingga keempat beragam peluncuran rekomendasi yang terlihat “wah” dan hebat ---terutama dalam rangka penyelamatan BJ--- selalu mandeg di perbincangan elitis dan kebutuhan projek penelitian serta konservasi-konservasi dangkal. Sebagai salah satu pijakan utama dalam substansi tujuan KBJ adalah menyelamatkan bahkan kalau dapat mengembangkan BJ; artinya KBJ V tahun ini diharapkan bisa mengakomodasi masukan-masukan strategis demi menjawab tantangan masa depan. Oleh karena itu, strategi memperluas portofolio produk budaya BJ terutama kepada kaum muda harus ditempuh. Pengalaman KBJ silam yang terkesan hanya memberi peluang ber-klangenan para tetua BJ seyogyanya ditinggalkan dalam KBJ V di Surabaya ini. Bukan berarti para piandel KBJ yang aktivitasnya tidak pernah absen sejak KBJ pertama hingga KBJ ke-5 diragukan.

Generasi Muda
    Sesungguhnya rekomendasi untuk mengembangkan BJ di kalangan generasi muda sudah diwacanakan sejak (terutama) KBJ IV di Semarang lima tahun silam. Namun seandainya pelibatan anak muda (pelajar SLTA hingga mahasiswa) berpartisipasi sejak pra-kongres hingga pelaksanaan KBJ, hasilnya pasti signifikan. Kendati tidak ada peraturan baku dalam pra-kongres, tetapi pelibatan awal anak muda pasti menyumbang performa positif bagi kinerja BJ nantinya. KBJ saat ini dituntut pekerjaan yang tinggi, bergerak lebih mendesak dan cepat. Untuk mengakomodasi hal tersebut, salah satu pilihan adalah partisipasi aktif generasi muda.
    Industri kebudayaan (Jawa) beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan yang pesat, namun seringkali kurang menarik minat institusi yang lebih global disebabkan terstagnasinya pengembangan BJ sebagai elemen transformasi dan komunikasi. Kita ketahui BJ hanya terpaku pada kinerja konservasi di penelitian-penelitian dan projek kebahasaan maupun studi-studi formalitas yang de-variatif. KBJ tahun ini diharapkan mempraktikkan secara konkret pelaksanaan rekomendasinya sendiri, yakni memasukkan muatan lokal BJ ke sekolah (SLTA) dan generasi muda. Kongres didesak secara formal membantu dan menetapkan BJ dan generasi muda sebagai area prioritas dalam program kerja tahun-tahun berikutnya. Minimal KBJ lima tahun mendatang kita sudah melihat bukti tersebut dengan tampilnya anak-anak muda sebagai penyelamat BJ dan KBJ. Keberadaan warga anak muda Jawa maupun anak muda yang lain yang mencintai BJ, secara nyata akan membantu program yang riil dari rekomendasi-rekomendasi KBJ. KBJ tidak harus di hotel berbintang nan mewah, tetapi keputusan-keputusannya harus berkelas “bintang” demi penyelamatan dan pelestarian BJ. Itu sebabnya, dunia pendidikan untuk anak muda (SLTA dan mahasiswa) harus memperoleh perhatian cukup besar dalam setiap pelaksanaan KBJ.

Penutup
    Memang diakui, hambatan paling utama pengimplementasian rekomendasi-rekomendasi KBJ adalah masih minimnya kompetensi sumber daya manusia (SDM). Anak muda yang belajar bahasa dan budaya Jawa di perguruan tinggi jumlahnya terus merosot. Bahkan sejumlah universitas negeri telah menganggap studi bahasa Jawa sebagai program “konservasi”. Studi BJ dianggap tidak menjanjikan pekerjaan yang “multi-tasking”. Apa pun orientasinya kita masih beruntung bahwa di fakultas keguruan-keguruan BJ masih cukup laku. Selayaknya KBJ tidak hanya memutuskan rekomendasi-rekomendasi seremonial, tetapi juga mampu mengimplementasikan secara nyata yang bermanfaat bagi pengembangan dan pelestarian bahasa-sastra Jawa.

Christanto P Rahardjo
Mahasiswa S-3 Kajian Budaya Media
Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar