Kamis, 19 Januari 2012

KONGRES BAHASA JAWA DI SURABAYA:
MASIH “MENGECAT JENDELA”?

Oleh CHRISTANTO P RAHARDJO

    Kita berharap agar kongres bahasa Jawa (KBJ) V di Surabaya bulan ini  (27-30/11/11) hadir dengan cakrik (desain) yang lebih gumreget, bernas, hemat dan fashionable. Artinya tanpa memboroskan waktu dan biaya, ketika  aktivitas panelis dan diskusi berlangsung kemudian mampu menyuguhkan sesuatu yang bermutu. Sejumlah pengalaman per-kongres membuktikan bahwa mulai KBJ II  di Batu-Malang hingga IV di Semarang, implementasinya masih sebatas semangat cita dan asa  Di bidang pendidikan formal, misalnya, kesepakatan untuk merekomendasi tentang muatan lokal wajib Bahasa Jawa di SLTA belum sepenuhnya ditangani dengan serius apalagi profesional. Kemudian masalah rekomendasi penyelenggaraan dan pengadaan buku ajar bahasa Jawa. Terbukti sampai sekarang kegiatan seleksi buku ajar oleh tim penilai independen belum terdengar apa-apa. Tujuan KBJ masih de-implementatif. Masih terjebak pada aktivitas “mengecat jendela” bagian luar bahasa Jawa; yang lapuk dan keropos hampir ambruk dari struktur kehidupan internal dan eksternal Bahasa Jawa (BJ) justru sering diabaikan.
    Internalitas dan karakter diri kehidupan BJ merupakan bagian penting dari perjalanan manusia berlabel kebudayaan Jawa. Artinya di tengah jalan menuju kelapukkan BJ saat ini, seyogyanya KBJ V tahun ini (50 makalah presentasi) mampu mendapatkan implementasi-implementasi yang menguatkan keeleganan berbahasa Jawa. Terutama sekali di kalangan anak muda. Ini cukup substantif dan kritis manakala penyelenggaraan KBJ sekarang masih didominasi kekuatan para “sepuh”. Jika kondisi ini terus berlangsung, wacana sebatas “mengecat jendela” dalam KBJ tetap tidak dapat dielakkan. Bukankah kebanggaan berbahasa Jawa (bahasa daerah apapun) terletak pada kiprah fashion statement anak muda? Mempraktikkan sosialita budaya Jawa yang serasi dengan perkembangan zaman harus dilakukan oleh anak muda. Mendesak bahwa konsep elegan dan personal dalam mengiprahkan BJ menjadi benang merah dalam kegiatan resmi (KBJ) maupun tidak resmi. Memang ada banyak aktivitas yang dapat dilakukan untuk “menyelamatkan” BJ. Namun kinerja mengelegankan secara personal praktik berbahasa Jawa di kalangan anak muda tampaknya sering “dijauhi” oleh panitya KBJ. Padahal semestinya, setiap penyelenggaraannya KBJ mampu mengokohkan BJ menjadi menjadi gaya hidup (lifestyle) di kalangan anak muda.
Kendatipun BJ kurang adaptif di bidang industri dan teknologi, BJ tetap mempunyai kepiawaian di bidang kebudayaan (Jawa). Kinerja BJ dengan kebudayaannya di era globalisasi, yakni akan memandu proses pembelajaran anak muda untuk menimba segala ilmu pengetahuan dari mana saja. selain itu BJ dan kebudayaannya akan menjadi filter untuk menyaring datangnya kebudayaan asing tersebut.
Mengamati sejumlah produk KBJ selama ini adalah minimnya ketiadaan penyelenggara menemukan diferensiasi yang akan disosialisasikan pada kemudian hari. Alih-alih implementasi rekomendasi KBJ, sosialisasi dan informasi pun telah mendahului untuk macet. Yang menggaung dan manggung di kemudian hari adalah sekadar pengetahuan teoretis BJ yang tidak dapat diterapkan. KBJ mau tidak mau harus mulai mempertimbangkan keterkaitannya dengan information, communication, dan technology (ICT). Dari kira-kira 50 materi seminar (judul makalah) dalam KBJ tahun ini ternyata masih jauh dari pertimbangan dan sinergi kebutuhan ICT. Padahal, begitu banyak hal yang harus dibenahi dan tantangan untuk menyelamatkan BJ sebagai urgensi. Urgensi BJ saat ini adalah menjalankan my door is open; terutama menyongsong dunia ICT yang kian kompleks. KBJ jelas dituntut bersinergi dalam rangka globalisasi dan desentralisasi. KBJ segera menegasikan ilusi kaku unrealistic optimism, bahwa semua hal-hal yang baik (adiluhung) akan terjadi pada BJ sendiri. Anggapan konyol seperti ini menghambat gerakan adiluhung BJ, parahnya bahwa kecenderungan beroptimisme negatif tersebut acapkali menetap secara permanen. Jadi, tantangan KBJ tahun ini adalah dengan sadar menjaga, mengevaluasi dan menuntut penilaian kita untuk bekerja keras menyelamatkan BJ sekaligus meregenerasikan aktivitas KBJ kepada generasi muda; paling tidak mempertanggungjawabkan secara profesional biaya milyaran rupiah demi terselenggaranya KBJ V di Surabaya.
KBJ V di Surabaya diharapkan mampu menyajikan beragam “keperluan” demi penyelamatan BJ. Bukan ajang pertemuan intuitif para sesepuh BJ yang tidak mengembangkan apa-apa terhadap BJ. Bukan mengulang secara stereotipik “ketidakmampuan” yang diwariskan dari KBJ-KBJ sebelumnya. Toh sampai sekarang kondisi BJ justru semakin menyedihkan; terutama di kalangan anak-anak dan generasi muda Jawa. Secara makro, keberadaan BJ kian terjepit bukan karena eksternalisasi, tetapi adanya kesalahan dan salah mengerti dari dalam sendiri. BJ kemungkinan besar hanya diterminalisasi dalam rangka kebutuhan-kebutuhan projek dan program konservasi di sejumlah studi perguruan tinggi (terutama Perguruan Tinggi Negeri). Dan dari KBJ ke KBJ kita tidak pernah berhasil mengurai kekusutan itu. Jangan heran bila mekanisme KBJ yang lalu yang tumbuh dan trubus adalah atmosfer salah/keliru berkepanjangan tentang gagalnya penyelamatan bahasa Jawa. Bahkan hilangnya inisiatif rekomendasi-rekomendasi KBJ sebelumnya.***

CHRISTANTO P RAHARDJO (Pamong bahasa Jawa di Kabupaten Jember, Jawa Timur)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar