“KEINDAHAN” DAN “KEBUSUKAN”
(Mozaik Jurnalisme Televisi Indonesia Hari Ini)
Oleh Christanto P Rahardjo
Seringkali hari-hari di Indonesia justru kian panas, sumuk, gerah saat melihat kehadiran acara infotainment dalam layar televisi kita. Teramat banyak suguhan infotainment tergelincir ke dalam zona yang ganjil. Seolah-olah program acara ini menjadi penuntun sederhana untuk melahirkan konflik, mengumbar emosi dan menciptakan kecemasan.
Tetapi biang kerok di atas bukan cuma dibebankan pada “kreativitas” produser maupun pemilik rumah produksi yang juga (sekedar) manusia biasa. Jepemilikan stasiun broadcast yang bersangkutan, niscaya membuat semakin mencengkeram seluruh mekanisme internal program acara. Termasuk infotainment. Komitmennya tetap teguh kepada bisnis konglomerasi; yakni teknik mensubordinasikan informasi atau bad journalism ke dalam keperluan komersial. Keindahan diadu melawan kebusukan.
Namun ini lumrah, karena infotainment ternyata semacam rumah atau kandang buat “menanak nasi” nilai-nilai keindahan sekaligus kebusukan itu sendiri. Keindahan dan kebusukan tersebut menunjuk pada suatu realitas, di mana konsepsi keseluruhan (wholeness) info-selebritis ternyata baru mengungkap satu aspek saja. Yakni popularitas.
Popularitas merupakan aspek yang kini menjadi realitas yang sedapat mungkin disentuh oleh “para wayang” atau pelaku yang notabene artis atau calon artis di Indonesia. Keindahan wajah, tubuh, rambut, bibir, tiba-tiba begitu gampang dibusukan dengan kelakuan sikap yang norak, perselingkuhan, sumpah serapah di depan kamera. Semua demi popularitas. Dan tidak salah jika Downie JR dan Robert G. Kaiser (The News About The News, 2000) mengatakan bahwa popularitas teramat mudah diberi label berita (news). Keindahan dan kebusukan para “wayang” (artis) cenderung terperosok dalam manipulasi informasi, serta alam berubah sebagai kekuatan yang dipertentangkan.
Kegelapan Komersial
Pada kondisi tertentu, keindahan berubah menjadi kebusukan, dan kebusukan akan kian busuk beriringan dengan lenyapnya tumpuan kerangka moralitas. Para artis, calon artis “wayang” yang mbalela (melawan) kepada “Sang Dalang” ini akhirnya dikuasai rasa takut yang destruktif. Popularitas yang senantiasa ingin digapai ternyata berada dalam “keadaan ziarah dan penyaliban”.
Infotainment telah membuat dramatisasi secara rutin. Sering jauh dari cover both sides. Dalam zona informasi infotainment tidak punya pilihan lain kecuali mengakui bahwa aspek “berita biru” (blue news) atau berita bias yang acap dilakoni senantiasa timbul dari “pemandangan malam hari”; kegelapan komersial sebagai akibat ekstrem dari bad journalism. Bukankah bad journalism tidak pernah bebas dari cengkeraman demonologi sosial, politik dan ekonomi?
Ketika perempuan pendangdut Maria Eva diinfotainmentkan oleh salah satu stasiun televisi swasta secara maraton dan agak waton (ngawur); peliputan yang sebetulnya malah “menghancurkan” kodrat perempuan Indonesia secara umum. Terlepas dari dakwaan kesalahannya. Pemberitaannya justru telah mengarah ke “infomersial”, mengintimidasi penonton tanpa ampun.
Seyogyanya pada momen inilah masyarakat (penonton) membutuhkan penjaga gawang (gatekeepers) informasi dengan tepat. Ketidakcakapan redaksional termasuk seleksi diksi dan efek visualisasi yang berat sebelah pada akhirnya hanya merugikan masyarakat.
Keindahan jurnalisme modern (the purpose of journalism) yang disubstansikan dari “khotbah-khotbah” macam Bill Kovach, Tom Resenstiel, Leonard Downie JR, Robert G Kaiser maupun sejumlah pakar jurnalistik dari Universitas Western Ontario, adalah suatu kesadaran yang makin berkembang, bahwa persamaan informasi tidak boleh dinilai dengan angka-angka saja, melainkan seanalog dalam realitasnya. Sebab, jika persamaan dimaknakan sebagai angka-angka, maka dengan gampang persamaan berita dapat diperjualbelikan, dimassalkan (kasus pornografi Maria Eva). Akibatnya masyarakat pemirsa sebagai juga mahkluk individualitas diingkari dan pribadi manusia diubah menjadi topeng yang tak berwajah.
Proses Koherensi
Sekali lagi, pemberitaan seorang repoter (seringkali) dapat membias kemudian “membusuk”, kurang akurat, fondasi konteks interpretasi dan hipotesis rapuh, gara-gara latar belakang emosi. Ditambah lagi perbedaan latar belakang pendidikan, sosial maupun budaya yang memproduksi penafsiran kebenaran secara berlainan. Kasus infotainment Maria Eva pun dijejali sudut pandang inferioritas marjinal kehidupannya (penyanyi dangdut), yang kemudian dipertentangkan dengan superioritas Yahya Zaini yang menjadi anggota DPR Republik Indonesia.
Mudah ditebak jika lantas sejumlah stasiun televisi swasta pun otomatis berpihak pada bau superioritas. Bertumpu pada bayang-bayang kepentingan bisnis dari pemilik media. Dan kembali kaum perempuan Indonesia dipaksa menemukan kodrat ahistorisnya, yakni tetap sebagai korban penindasan infotainment. Penindasan yang dibalut keindahan sekaligus kebusukan demi seonggok popularitas.
Televisi (baca: infotainment) kita memang telah berhasil mengubah ranah informasi sedemikian canggih. Namun, kecanggihan berita tidak serta-merta dibarengi koherensi. Proses koherensi berita biasanya terikat pada pengakuan bahwa semua arus pemberitaan mestinya diawali oleh suatu re-evaluasi dan re-organisasi intelektual secara tegar. Bahwa proses kreatif redaksional dan visual infotainment bukan suatu aktivitas bebas sewenang-wenang.
Berita adalah yang kita ketahui, dipikirkan dan dirasakan; berita terikat oleh sejarah, moralitas dan kosmis, jika hal ini telah berjalan, maka keakuratan dan kepercayaan terhadap “keindahan” berita akan menciptakan tahkik-nya sendiri. Infotainment harus mengenyahkan fakta desas-desus dan membuang berita sampah yang membusukan. Sebab sifat keindahan berita yang koherensif, adalah ia mendamaikan kembali meaning (makna) dan being (ada). Seperti kata-kata Kovach dan Rosenstiel lagi, bahwa (semestinya) para jurnalis tidak bekerja demi kepentingan komersial pelanggan. Mereka mestinya bekerja dan berjuang karena komitmen, keberanian, moralitas, dan profesionalisme yang telah teruji. Apalah arti “kecepatan” berita ketika berita lantas cepat “membusuk”, karena ketiadaan disiplin dalam melakukan verifikasi?
Jurnalisme yang memicu
Jurnalistik adalah media seni untuk memicu apa pun, demikian substansi filosofis Tabloids, Talk Radio and The Future of News karya Ellen Hume (1995). Jika media seni mampu memicu sekaligus merangsang publik (konsumen media), maka jelas jurnalistik (sekaligus jurnalisme) dengan contoh gaya penampilan model Wall Street Journal, Reuters, Le Monde, C-SPAN, The Economist, BBC, VOA, akan senantiasa membutuhkan hubungan yang intens dengan kemanusiaan. Manusia yang hidup dalam damai, perang, dan di zona keraguan yang pekat. Bandingkan kata-kata picuan jurnalistik The Economist (23/09/06) ketika memberi tajuk terhadap kudeta di Thailand belum lama ini; kudeta militer itu seperti perang, mudah memulai tetapi sulit untuk mengakhiri.
Nah, kredo romantisme The Economist tadi telah mengukuhkan secara universal bahwa jurnalisme hampir sejajar dengan ungkapan klasik Karl Marx; makin berkurang anda menjadi diri anda, dan makin sedikit yang anda ungkapan dari kehidupan anda (makin banyak anda memiliki, dan makin besar keterasingan hidup anda). Dengan ungkapan lain, sifat jurnalistik (jurnalisme) mengarah pada premis-premis “karakter sosial” yang bermakna sebagai sebuah produk adaptasi dinamik dari kodrat manusia pada struktur masyarakat. Kondisi sosial yang berubah melahirkan perubahan karakter sosial, yaitu perubahan dalam kebutuhan dan kecemasan baru.
Jurnalisme Asimilasi
Bandingkan fenomena jurnalisme kontemporer saat ini, terutama sejak kehadiran teknologi digital. Di satu fihak teknologi digital mampu menghidangkan komprehensivitas cukup handal dari media cetak, teknologi televisi, radio dan internet. Sebuah pola penerimaan (resepsi) informasi ke tingkat teknologi begitu rupa. Namun, tiba-tiba pun muncul kecemasan-kecemasan sosial yang tak kalah rumitnya seiring dengan kecanggihan teknologi digital itu sendiri. Jurnalisme kontemporer mesti berhadapan dengan proses asimilasi yang tidak produktif seperti reseptif, eksploitif, menimbun dan keinginan pasar.
Jurnalisme reseptif yang lazim marak di sejumlah negara berkembang yang “militeristik”, anti-demokrasi; senantiasa menginginkan sesuatu yang “baik” datang dari luar dan difahami secara pasif, baik itu benda materi, afeksi, cinta atau pun kenikmatan.
Di abad ini, keberbedaan memaknai komunikasi, masih terus berlangsung secara masif. Hal-hal positif yang baru terus dikalahkan oleh “penguasa” politik dan ---terutama--- oleh penguasa media massa. Sejumlah televisi Indonesia misalnya, ---yang memang merupakan “anak emas” kapitalisme--- hari-hari ini membanggakan siaran-siarannya, sebagai representasi utuh tentang kegilaan memvisualisasikan kriminalitas destruktif yang dilakukan sejumlah warga masyarakat. Agresivitas tayangan kekerasan televisi mengidentikkan tingkat kekejian informasi yang kemudian justru diklaim sebagai pembenaran nan “adiluhung” dan keniscayaan ekstrem. Inilah bukti jurnalisme reseptif-eksploitif di Indonesia yang memang mirip dengan orientasi homo consumens. Jurnalisme kapitalis merupakan cerminan dari orientasi eksploitif.
Jurnalisme orientasi menimbun (boarding orientation) dan jurnalisme pasar bahkan sama sekali “tak pernah” mampu mengurangi atau mengeliminir bibit-bibit kecemasan baru yang alienatif. Meminjam istilah lama Erich Fromm (1988) yang disebut kecenderungan nekrofik-destruktif, maka jurnalisme (terutama media televisi swasta) agaknya paling mendekati terhadap kecenderungan tersebut. Orientasi jurnalistik nekrofik-destruktif menunjuk pada nafsu mencintai segala yang mati dan perusakan, seperti kehancuran, kebusukan pengadilan dan hukum, kematian, kekerasan, kesakitan dan kecelakaan. Sejumlah stasiun televisi swasta Indonesia hingga hari ini masih terus memicu orientasi nekrofik-destruktif demi mendongkrak rating. Idiom Good Journalism seperti yang didambakan Downie & Kaiser (The News About The News, American Journalism, 2002) mungkin masih cukup jauh dari kenyataan di Indonesia.
Informasi Neurosa-Kompulsif
Kasus eksekusi mati Tibo cs membuktikan paling kentara tumpulnya misi Good Journalism sejumlah media di Indonesia. Betapa tidak, karena sejak kasus Tibo cs merebak, maka berbagai informasi dan gambaran krisis yang seyogyanya diemban oleh jurnalisme; lebih-lebih jurnalisme sebagai “watchdog”, terutama berkaitan dengan terpidana Tibo cs, tiba-tiba mengalami “kebingungan”, kalau tidak mau dikatakan lenyap. Bukankah Good Journalism merupakan fakta sekaligus penjelasan dan ruang diskusi, yang diharapkan mampu memandu para konsumen media (rakyat). Memang tidak gampang menjalankan Good Journalism di tengah konflik horisontal macam di Poso. Dan sejumlah penguasa pusat maupun setempat seperti lazimnya jarang yang merestui informasi cover both sides. Jurnalisme nekrofik-destruktif juga terefleksi dalam “kemandulan” investigasi menguak pembunuh Munir sampai sekarang. Bahkan situasi lalulintas pemberitaan pembunuhan Munir kian tidak produktif dan justru mengarah pada ekses informasi neurosa kompulsif. Akibatnya rakyat semakin merasa tidak aman dalam hidupnya.
Jelaslah bahwa jurnalisme (boarding orientation) merupakan sesuatu yang tidak produktif, apalagi harus mengingat situasi makro permediaan (cetak maupun elektronik) di Indonesia yang dikonglomerasi sedemikian luar biasa. Artinya kepemilikan media di sini telah membuat jarak teramat lebar antara idealisme pers dengan bisnis. Di Amerika Serikat pun diakui mekanisme konglomerasi permediaan pun telah “merusak” idealisme jurnalistik. Kovach & Rosenstiel (2001) mencatat bahwa konglomerasi America Online (AOL) hanya berkutat pada substansi non-jurnalistik; macam “infotainment”, online shopping, dan media “curhat”.
Manusia Indonesia hidup dalam damai, perang, dan di zona keraguan yang pekat. Hari ini membutuhkan produk jurnalistik “cinta” secara aktif dan sadar. Aroma “cinta” itu akan menghampiri zona kebebasan, pluralisme, oto-aktivitas, dan spontanitas, yang menjadi tolok ukur manifestasi dari orientasi Good Journalism. Tapi di manakah aroma cinta itu? ***
Penulis, mengajar Jurnalistik& Public Relations di Universitas Jember, Jember Jawa Timur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar