JURNALISME TV: CATATAN SINGKAT
Oleh Christanto P Rahardjo
Jurnalistik adalah media seni untuk memicu apa pun, demikian substansi filosofis Tabloids, Talk Radio and The Future of News karya Ellen Hume (1995). Jika media seni mampu memicu sekaligus merangsang publik (konsumen media), maka jelas jurnalistik (sekaligus jurnalisme) dengan contoh gaya penampilan model Wall Street Journal, Reuters, Le Monde, C-SPAN, The Economist, BBC, VOA, akan senantiasa membutuhkan hubungan yang intens dengan kemanusiaan. Manusia yang hidup dalam damai, perang, dan di zona keraguan yang pekat. Bandingkan kata-kata picuan jurnalistik The Economist (23/09/06) ketika memberi tajuk terhadap kudeta di Thailand belum lama ini; kudeta militer itu seperti perang, mudah memulai tetapi sulit untuk mengakhiri.
Nah, kredo romantisme The Economist tadi telah mengukuhkan secara universal bahwa jurnalisme hampir sejajar dengan ungkapan klasik Karl Marx; makin berkurang anda menjadi diri anda, dan makin sedikit yang anda ungkapan dari kehidupan anda (makin banyak anda memiliki, dan makin besar keterasingan hidup anda). Dengan ungkapan lain, sifat jurnalistik (jurnalisme) mengarah pada premis-premis “karakter sosial” yang bermakna sebagai sebuah produk adaptasi dinamik dari kodrat manusia pada struktur masyarakat. Kondisi sosial yang berubah melahirkan perubahan karakter sosial, yaitu perubahan dalam kebutuhan dan kecemasan baru.
Jurnalisme Asimilasi
Bandingkan fenomena jurnalisme teve kontemporer saat ini, terutama sejak kehadiran teknologi digital. Di satu fihak teknologi digital mampu menghidangkan komprehensivitas cukup handal. Sebuah pola penerimaan (resepsi) informasi ke tingkat teknologi begitu rupa. Namun, tiba-tiba pun muncul kecemasan-kecemasan sosial yang tak kalah rumitnya seiring dengan kecanggihan teknologi digital itu sendiri. Jurnalisme kontemporer mesti berhadapan dengan proses asimilasi yang tidak produktif seperti reseptif, eksploitif, menimbun dan keinginan pasar.
Jurnalisme reseptif yang lazim marak di sejumlah negara berkembang yang “militeristik”, anti-demokrasi; senantiasa menginginkan sesuatu yang “baik” datang dari luar dan difahami secara pasif, baik itu benda materi, afeksi, cinta atau pun kenikmatan.
Di abad ini, keberbedaan memaknai komunikasi, masih terus berlangsung secara masif. Hal-hal positif yang baru terus dikalahkan oleh “penguasa” politik dan ---terutama--- oleh penguasa media massa. Sejumlah televisi Indonesia misalnya, ---yang memang merupakan “anak emas” kapitalisme--- hari-hari ini membanggakan siaran-siarannya, sebagai representasi utuh tentang kegilaan memvisualisasikan kriminalitas destruktif yang dilakukan sejumlah warga masyarakat. Agresivitas tayangan kekerasan televisi mengidentikkan tingkat kekejian informasi yang kemudian justru diklaim sebagai pembenaran nan “adiluhung” dan keniscayaan ekstrem. Inilah bukti jurnalisme reseptif-eksploitif di Indonesia yang memang mirip dengan orientasi homo consumens. Jurnalisme kapitalis merupakan cerminan dari orientasi eksploitif.
Jurnalisme orientasi menimbun (boarding orientation) dan jurnalisme pasar bahkan sama sekali “tak pernah” mampu mengurangi atau mengeliminir bibit-bibit kecemasan baru yang alienatif. Meminjam istilah lama Erich Fromm (1988) yang disebut kecenderungan nekrofik-destruktif, maka jurnalisme (terutama media televisi swasta) agaknya paling mendekati terhadap kecenderungan tersebut. Orientasi jurnalistik nekrofik-destruktif menunjuk pada nafsu mencintai segala yang mati dan perusakan, seperti kehancuran, kebusukan pengadilan dan hukum, kematian, kekerasan, kesakitan dan kecelakaan. Sejumlah stasiun televisi swasta hingga hari ini masih terus memicu orientasi nekrofik-destruktif demi mendongkrak rating. Idiom Good Journalism seperti yang didambakan Downie & Kaiser (The News About The News, American Journalism, 2002) mungkin masih cukup jauh dari kenyataan di Indonesia.
Informasi Neurosa-Kompulsif
Kasus eksekusi mati Tibo cs membuktikan paling kentara tumpulnya misi Good Journalism sejumlah media di Indonesia. Betapa tidak, karena sejak kasus Tibo cs merebak, maka berbagai informasi dan gambaran krisis yang seyogyanya diemban oleh jurnalisme; lebih-lebih jurnalisme sebagai “watchdog”, terutama berkaitan dengan terpidana Tibo cs, tiba-tiba mengalami “kebingungan”, kalau tidak mau dikatakan lenyap. Bukankah Good Journalism merupakan fakta sekaligus penjelasan dan ruang diskusi, yang diharapkan mampu memandu para konsumen media (rakyat). Memang tidak gampang menjalankan Good Journalism di tengah konflik horisontal macam di Poso. Dan sejumlah penguasa pusat maupun setempat seperti lazimnya jarang yang merestui informasi cover both sides. Jurnalisme nekrofik-destruktif juga terefleksi dalam “kemandulan” investigasi menguak pembunuh Munir sampai sekarang. Bahkan situasi lalulintas pemberitaan pembunuhan Munir kian tidak produktif dan justru mengarah pada ekses informasi neurosa kompulsif. Akibatnya rakyat semakin merasa tidak aman dalam hidupnya.
Jelaslah bahwa jurnalisme (boarding orientation) merupakan sesuatu yang tidak produktif, apalagi harus mengingat situasi makro permediaan (cetak maupun elektronik) di Indonesia yang dikonglomerasi sedemikian luar biasa. Artinya kepemilikan media di sini telah membuat jarak teramat lebar antara idealisme pers dengan bisnis. Di Amerika Serikat pun diakui mekanisme konglomerasi permediaan pun telah “merusak” idealisme jurnalistik. Kovach & Rosenstiel (2001) mencatat bahwa konglomerasi America Online (AOL) hanya berkutat pada substansi non-jurnalistik; macam “infotainment”, online shopping, dan media “curhat”.
Manusia yang hidup dalam damai, perang, dan di zona keraguan yang pekat. Hari ini membutuhkan produk jurnalistik “cinta” secara aktif dan sadar. Aroma “cinta” itu akan menghampiri zona kebebasan, pluralisme, oto-aktivitas, dan spontanitas, yang menjadi tolok ukur manifestasi dari orientasi Good Journalism. Tapi di manakah aroma cinta itu? ***
*** Sebagai pointer untuk tim Penyiaran Universitas Jember, 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar